Jumat, 14 Agustus 2020

Definisi dan Topologi WAN

 

Definisi dan Jenis Topologi WAN

Wide area network (WAN) adalah jaringan yang menghubungkan letak geografis yang berbeda, yang mungkin dimiliki oleh satu organisasi yang sama atau bisa saja dimiliki oleh organisasi yang berbeda. Topologi WAN menggunakan kedua topologi jaringan LAN milik perusahaan yang luas sebagai sebuah blok bangunan jaringan, tapi dengan kompleksitas yang lebih karena jarak yang harus dilewati oleh jaringan tersebut, sejumlah besar user yang harus dilayani, dan lalulintas data yang padat yang harus ditangani. Sebagai contoh, meskipun topologi ring yang simpel dapat melayani kebutuhan kantor yang kecil dengan 10 user tapi akan menjadi tidak efektif jika yang dilayani sebanyak 1000 user. Topologi WAN yang kita pilih akan bergantung pada jumlah situs yang harus kita terhubung dengannya, jarak antara situs, dan tentunya infrastruktur yang sudah ada

1. Peer-to-Peer

WAN dengan satu titik interkoneksi untuk setiap lokasi diatur dalam topologi peer to peer. Topologi WAN peer-to-peer sama dengan peer-to-peer communications pada LAN dimana setiap situs bergantung pada situs yang lain dalam jaringan untuk mengirim dan menerima data. Akan tetapi, peer-to-peer pada LAN menggunakan komputer dengan shared access dengan satu kabel, sedangkan topologi peer-to-peer pada WAN menggunakan lokasi yang berbeda, masing-masing terhubung satu sama lain melalui sirkuit khusus.

Topology peer-to-peer WAN sering menjadi pilihan terbaik untuk organisasi yang hanya memiliki beberapa situs dan dengan kemampuan untuk menggunakan sircuit khusus yang memiliki saluran komunikasi yang kontinyu antara dua access points yang disewa dari operator komunikasi, seperti ISP.

 

2. Ring

Di topologi WAN Ring, setiap situs terhubung ke dua situs lainnya sehingga seluruh WAN membentuk pola cincin. Arsitektur ini sama dengan topologi ring pada LAN, akan tetapi topologi ring pada WAN lebih lebih menghubungkan lokasi ketimbang node-node jaringan. Kelebihan topologi ring dibandingkan topologi peer to peer pada topologi WAN itu dua kali lipat diantaranya: masalah kabel tunggal tidak akan mempengaruhi seluruh jaringan, dan router di situs manapun dapat mengarahkan data ke rute lain jika satu rute sedang terlalu sibuk. Disisi lain, perluasan jaringan peer-to-peer pada WAN karena membutuhkan setidaknya satu link tambahan. Karena alasan-alasan ini, WAN yang menggunakan topologi cincin lebih praktis untuk hanya menghubungkan kurang dari empat atau lima lokasi.

 

3. Star

Topologi star pada WAN meniru aturan main pada topologi star pada LAN. Satu situs berperan sebagai titik pusat koneksi untuk beberapa titik koneksi lainnya. Pengaturan ini menyediakan rute terpisah untuk data antara dua situs. Sebagai hasilnya, topologi star pada WAN lebih bisa diandalkan dibandingkan topologi peer-to-peer atau ring pada WAN. Keuntungan lain dari topologi star pada WAN adalah ketika semua sirkuit terdedikasi berfungsi, topologi star pada WAN bintang menyediakan jalur data yang lebih pendek antara dua situs.

 

4. Mesh

Seperti halnya jaringan perusahaan yang luas, maka sebuah topologi mesh pada WAN  menggabungkan banyak node yang terhubung secara langsung dalam hal ini lokasi geografis. Karena setiap situs saling terkoneksi, data bisa dikirim secara langsung dari lokasi aslinya menuju destinasinya. Jika salah satu koneksi sedang bermasalah, router bisa me-redirect data dengan mudah dan cepat. Topologi Mesh pada WAN adalah jenis konfigurasi WAN yang paling toleran karena menyediakan beberapa rute untuk data bisa dikirim dari satu titik ke titik lainnya.

Satu kelemahan dari topologi Mesh pada WAN adalah masalah biaya; menghubungkan setiap titik ke setiap titik yang lainnya memerlukan leasing sejumlah besar sircuit terdedikasi. Dengan jaringan WAN yang luas, biaya yang dibutuhkannya pun bisa menjadi besar sekali. Untuk mereduksi masalah biaya, kita bisa memilih untuk menerapkan topologi ini secara parsial, dimana node WAN yang kritis secara langsung diinterkoneksikan dan node sekunder bisa dikoneksikan melalui topologi star atau ring. Penerapan topologi Partial-mesh pada WAN lebih praktis, dan lebih umum dalam dunia bisnis saat ini daripada topologi full-mesh pada WAN.

 

5. Tiered

Topologi Tiered pada WAN sama dengan topologi hibrid hierarkis yang ada pada LAN. Pada topologi tiered WAN, situs WAN yang terhubung dalam topologi star atau ring terkoneksi pada level atau tingkatan yang berbeda, dengan titik interkoneksi yang diatur dalam layer-layer jaringan.

Variasi pada topologi ini berlimpah. Dan memang, fleksibilitas membuat pendekatan topologi tiered cukup praktis. Seorang arsitek jaringan dapat menentukan penempatan terbaik dari router tingkat atas didasarkan pada pola lalu lintas atau jalur data penting. Selain itu, sistem berjenjang atau tiered memungkinkan untuk ekspansi yang mudah dan masuknya link berlebihan untuk mendukung pertumbuhan. Di sisi lain, fleksibilitas yang sangat pada topologi ini berarti bahwa pembuatan topologi WAN berjenjang atau tiered memerlukan pertimbangan cermat tentang geografi, pola penggunaan, dan potensi pertumbuhan.

 

Desain jaringan WAN

 

A. PENGENALAN JARINGAN WAN

Jaringan/network adalah suatu mekanisme yang memungkinkan berbagai komputer terhubung dan para penggunanya dapat berkomunikasi dan share resources satu sama lain.

Apa yang dimaksud dengan WAN ( Wide Area Network)? - Teknologi ...

Informasi dan data bergerak melalui media transmisi jaringan sehingga memungkinkan pengguna jaringan komputer untuk saling bertukar dokumen dan data, mencetak pada printer yang sama dan bersama-sama menggunakan hardware/software yang terhubung dengan jaringan. Saat ini kita mengenal beberapa jenis jaringan pada umumnya yaitu jaringan data dan internet. Jaringan data adalah sebuah jaringan yang memungkinkan komputerkomputer yang ada saling bertukar data. Contoh yang paling sederhana adalah dari jaringan data adalah dua buah PC terhubung melalui sebuah kabel. Akan tetapi, rata-rata jaringan data menghubungkan banyak alat. Jaringan internet adalah sekumpulan jaringan-jaringan yang saling terhubung oleh alat jaringan dan akan menjadikan jaringan-jaringan tersebut sebagai satu jaringan yang besar. Public internet adalah contoh yang paling mudah dikenali sebagai jaringan tunggal yang menghubungkan jutaan komputer.

B. Arsitektur Jaringan WAN

Ada 3 jenis arsitektur jaringan data yaitu:

  1. LAN (Local Area Network) Jaringan ini beroperasi dalam area yang jaraknya terbatas (kurang dari 10 kilometer). Biasanya jaringan ini bersifat tertutup karena hanya digunakan oleh sekumpulan orang dan memberikan akses bandwith yang tinggi dalam lingkup kelompok yang Teknologi Jaringan Berbasis Luas (WAN) Kelas XI untuk SMK/MAK 4 menggunakannya. Alat yang biasa digunakan adalah Switch dan Hub.

  2. WAN (Wide Area Network) Jaringan ini beroperasi dalam area yang lebih luas dari LAN. Biasanya jaringan WAN berfungsi untuk menghubungkan LAN yang berada terpisah secara geografis. Biasanya digunakan juga untuk fulltime/partime connectivity antardaerah dan juga untuk public services seperti email. Alat yang biasa digunakan di jaringan ini adalah Router.

  3. MAN (Metropolitan Area Network) Jaringan ini beroperasi dalam area yang lebih luas secara geografis. Biasanya menghubungkan jaringan WAN yang terpisah sehingga memungkinkan untuk terjadinya pertukaran informasi dan sharing data dan devices. Alat yang digunakan adalah kumpulan dari Router dan Gateway

Jaringan yang pertama kali dikenalkan adalah LAN. WAN diperkenalkan sebagai jaringan yang menghubungkan LAN-LAN yang ada sehingga user juga dapat membagi informasi dan mengakses alat-alat yang ada. Di sini yang akan kita bahas lebih lanjut adalah mengenai WAN. Kita akan membahas lebih dalam mengenai jaringan ada 2 konsep yang penting yaitu: 1) Protocol Protocol banyak digunakan untuk proses komunikasi di antara entiti pada sistem yang berbeda-beda. Istilah entiti merujuk pada program-program aplikasi user sedangkan sistem lebih pada komputer dan terminal. Elemen-elemen kunci untuk sebuah protocol adalah sebagai berikut: a. Syntax Meliputi segala sesuatu yang berkaitan dengan format data dan level-level sinyal. b. Semantics Meliputi informasi kontrol untuk koordinasi dan pengendalian kesalahan. c. Timing Meliputi kesesuaian urutan dan kecepatan. 2) Arsitektur komunikasi komputer Ada 2 arsitektur protokol yang digunakan sebagai dasar bagi pengembangan standarstandar: a. Model TCP/IP Model dan protokol TCP/IP merupakan open standard yang merupakan standar teknis dan historis dari internet. Pada tahun 1973, Bob Kahn dan Vint Cerf mengerjakan proyek yang nantinya disebut TCP/IP. Selanjutnya, model TCP/IP dikembangkan Departemen Pertahanan USA (DOD) pada tahun 1981 (cisco.netacad.net, ch9, s1) dengan tujuan ingin menciptakan suatu jaringan yang dapat bertahan dalam segala kondisi. TCP/IP adalah jenis protokol pertama yang digunakan dalam hubungan internet, sehingga banyak istilah dan konsep yang dipakai dalam hubungan internet berasal dari istilah dan konsep yang dipakai oleh protokol TCP/IP. Perkembangan TCP/IP menciptakan suatu standar de facto, yaitu suatu standar yang diterima oleh kalangan pemakai dengan sendirinya karena pemakaian yang luas. Beberapa layer pada model TCP/IP mempunyai nama yang sama dengan model OSI.



Menganalisis Jaringan Berbasis Luas 5 Gambar 1.3 Model TCP/IP (Sumber: ad-net.com.tw/osi-model-tcp-ip-network)

Gambar 1.3 merupakan gambaran dari model TCP/IP di mana dapat dilihat bahwa model TCP/IP juga dibagi menjadi 2 bagian, yaitu bagian networks dan protocols. b. Topologi Jaringan Setelah kita mengetahui komponen untuk membangun sebuah jaringan maka langkah selanjutnya adalah merancang jaringan sesuai yang kita perlukan. Apakah jaringan yang akan kita bangun akan berbentuk bintang (star), lingkaran (ring), dan sebagainya. Hal tersebut dinamakan dengan topologi jaringan.

Minggu, 22 Maret 2020

Materi Kelas XI TKJ 1 & XI TKJ 2

Konfigurasi Point To point Menggunakan Litebeam M5 - Access Point dan Station | Teknik Komputer dan Jaringan





Pengertian Jaringan Point To Point




Gambar 4.1. 1 Cara Kerja Jaringan Point To Point

Jaringan Point To Point adalah metode pendistribusian akses insternet yang hanya melibatkan dua site saja. Topologi Point To Point umumnya dipakai oleh ISP untuk mendistribusikan akses internet dari POP (Point Of Presence) hanya ke satu pelanggan saja menggunakan radio wireless, syarat jaringan wireles dikatakan sebagai PTP adalah jika hanya terdapat satu radio station yang terkoneksi ke access point. Secara umum jaringan yang lebih kecil dan terlokalisasi secara geografis cenderung memakai jaringan broadcast, sedangkan jaringan yang lebih besar umumnya menggunakan point to point.

b. Spesifikasi Litebeam M5

Dalam menerapkan jaringan Point To Point, salah satu perangkat yang digunakan adalah Litebeam M5. Salah satu type dari penyedia perangkat jaringan Ubiquiti. Bagian-bagian Litebeam M5 adalah Antenna Feed, Center Reflector Panel, Side Reflector Panel, Metal Strap, Ball Joint Mount, Set Screws, dan Adaptor POE (25V;0,2 A). Adapun spesifikasi litebeam M5 adalah sebagai berikut:

1. Spesifikasi Processor: MIPS 74K.
2. Memory: 64MB.
3. Network Interface: 1 x 10/100 Ethernet Pelabuhan.
4. Frekuensi Operasi: Seluruh Dunia: 5150 - 5875MHz, USA: 5150-5250, 5725 - 5850MHz.
5. Antenna Gain: 23dBi.
6. Daya Maksimum Output: 25dBm.
7. Maksimum Konsumsi Daya: 4W.
8. Power Supply: 24V, 0.2A PoE Adapter.
9. Metode Power: Pasif PoE (pasangan 4, 5 +; 7, 8 Kembali).
10. Suhu Operasional: -40 sampai 158deg F (-40 sampai 70deg C).
11. Kelembaban Operasi: 5-95% tanpa pengembunan.
12. Angin Survivability: 125mph (200km / h).


Gambar 4.1. 2 Radiolink Litebeam M5

B. ALAT DAN BAHAN

1. LiteBeam M5

Gambar 4.2. 1 Perlengkapan Radiolink Litebeam M5


Gambar 4.2. 2 Side Reflector Panel
2. Kabel UTP

Gambar 4.2. 3 Kabel UTP




3. Konektor RJ 45

Gambar 4.2. 4 Konektor RJ 45



4. Crimping Tool

Gambar 4.2. 5 Crimping Tool


5. LAN Tester

Gambar 4.2. 6 LAN Tester


6. Tiang Galvanis

Gambar 4.2. 7 Tiang Galvanis Type Z


7. Safety Belt

Gambar 4.2. 8 Safety Belt


8. Tower/Base Transcevier Station (BTS)

Gambar 4.2. 9 Base Transceiver Station

KESELAMATAN KERJA

Sebelum melakukan konfigurasi, pastikan semua perangkat jauh dari benda cair agar tidak terjadi konsleting listrik. Periksa juga kabel yang digunakan sehingga aman dari sengatan arus listrik yang biasanya disebabkan oleh kabel terkelupas dan sebagainya.

LANGKAH KERJA

a. Konfigurasi Radiolink Litebeam M5  Sebagai Pemancar

1. Isikan IP address pada laptop yang kita gunakan saat konfigurasi sesuai dengan alamat IP Default radio Litebeam M5. Secara default perangkat radio Litebeam M5 memiliki IP Address 192.168.1.20 sehingga IP yang harus di gunakan adalah IP yang sama (misalnya 192.168.1.2), dengan Subnet Mask 255.255.255.0, Default Gateway  192.168.1.1, Preferred DNS Server 8.8.8.8, dan Alternate DNS Server 8.8.4.4. untuk lebih jelasnya lihatlah gambar di bawah ini.

Gambar 4.4. 1 IP Address pada laptop


2. Setelah pengisian IP selesai, cobalah Ping IP radio untuk memastikan apakah laptop sudah terhubung dengan radio.

Gambar 4.4. 2 Ping IP Address Radio


3. Bukalah browser. Ketikkan alamat IP radio pada kotak URL. Jika muncul tampilan seperti gambar berikut maka pilih Advanced.

Gambar 4.4. 3 Login Radio



4. Kemudian pilih menu Proceed to 192.168.1.20 (unsafe).

Gambar 4.4. 4 Login Advanced Menu

5. Masukkan Username ubnt dan Passwordnya ubnt, kemudian pilih Country  Indonesia, Language English, dan centang I Agree... lalu klik Login.


Gambar 4.4. 5 Halaman Login UBNT

6. Setelah berhasil Login, pilih tab System. Centang bagian Check For Updates. Berikan nama device. Misalnya AP_KHAIRUL. Pilih zona waktu Bangkok (GMT +07.00). 

Gambar 4.4. 6 Konfigurasi Tab System

7. Pilih tab Service. Centang bagian SNMP Agent. Lalu ketik Public dibagian SNMP Community, Contact nya GDS, Location Cendana. Centang bagian SSH Server lalu isikan portnya 22. Centang bagian Telenet Server lalu isikan portnya 23. Centang juga bagian NTP Client lalu isi kotak NTP Server dengan 0.id.pool.ntp.org. Centang bagian system log. Klik change.

Gambar 4.4. 7 Konfigurasi Tab Service

8. Pilih tab Network. Pada kotak Network Mode pilih Bridge dan pada kotak Diseble Network pilih None. Pada kotak Configuration Mode pilih Simple. Pada bagian Management Network Settings, Jenis IP Address nya Static dengan alamat IP 172.16.1.9, Netmasknya 255.255.255.0, Gatewaynya 172.16.1.1, Auto IP Aliasing dicentang. Klik Change. 


Gambar 4.4. 8 Konfigurasi Tab Network

9. Pilih tab Wireless. Pilih Wireless Mode Acces Point, centang pilihan WDS. SSID nya diisi PTP_JOS, Country Code pilih Indonesia. Channel Width 20 MHz, Frequency MHz Auto, Antenna 11 x 14 (t x1) -23 dBi, Output Power 25 dBm, Data Rate Modul Default, Max Tx Rate Mbps nya MCS 7 -65/72.2  dan Auto dicentang.

Gambar 4.4. 9 Konfigurasi Tab Wireless

10. Untuk melihat hasil konfigurasi pilih tab Main.

Gambar 4.4. 10 Hasil Konfigurasi

b. Konfigurasi Radiolink Litebeam M5  Sebagai Station/Client

1. Pilih tab System. Check For Updates dicentang. Pada kotak Device Name isikan CPE-ANWAR. Untuk Time Zone (GMT+07.00) Bangkok. Klik Change.

Gambar 4.4. 11 Konfigurasi Tab System Client

2. Pilih tab Service. SNMP Agent dicentang, SNMP Community pilih Public, Contact ketik GDS, Location ketik Pekanbaru. Untuk Web Server dicentang, HTTPS dicentang, Secure Server Port 443, Server Port 80, Session TimeOut 15 Minutes. Untuk SSH Server dicentang dengan Server Port 22, Password Authenticaton dicentang. Telnet Server dicentang dengan Server Port 23. NTP Client dicentang, NTP Server 0.id.pool.ntp.org. Centang System Log.

Gambar 4.4. 12 Konfigurasi Tab Service Client

3. Pilih tab Network. Pada kotak Network Mode pilih Router, Diseble Network pilih None. Configuration Mode pilih Simple. Untuk WAN Network Setting, nama WAN Interfacenya WLAN0, IP Address PPPoE, Username dan Passwordnya dapat diminta dari NOC, Fallback IP 172.16.1.8, Fallback Netmask 255.255.255.0, MTU/MRU 1492/1492 dan MRU Negotiaton dicentang, NAT dicentang, NAT Protocol dicentang Semua.

Gambar 4.4. 13 Konfigurasi Tab Network Client

Untuk LAN Network Setting, IP Address 192.168.1.1 - 255.255.255.0, MTU 1500, DHCP Server dicentang, Range Start 192.168.1.2, Range End  192.168.1.254 - 255.255.255.0, Lease Time 600, Primary DNS IP 202.119.13.77, Secondary DNS IP 202.118.13.78. Klik Change.

Gambar 4.4. 14 Konfigurasi Tab Network Client

4. Pilih tab Wireless. Wireless Mode pilih Station, SSID nya dapat kita select, pilihlah PTP yang Sinyal Bagus buat pelanggan/yang sudah kita seting tadi. Country Code Complience Test, Channel Width Auto 20/40 MHz. Antenna 11 X 14 (1X1) -23 dBi. Output Power 25 dBm. Data Rate Module Default. Max TX Rate, Mbps MCS 7-65/72.2, dan Auto dicentang.

Gambar 4.4. 15 Konfigurasi Tab Wireless Client

5. Untuk melihat hasil konfigurasi dan kekuatan sinyal yang diterima oleh station, pilih tab Main.

Gambar 4.4. 16 Hasil Konfigurasi Client


E. HASIL YANG DIPEROLEH

Adapun hasil dan pembahasan dalam melakukan konfigurasi radio adalah pengecekan kekuatan sinyal radio. Jika sinyalnya lemah maka harus dilakukan pointing sampai sinyalnya dirasa sudah bagus. Untuk frekuensi sinyal yang baik adalah mulai dari -75 dBm ke bawah atau lebih mudahnya dengan melihat indikator warna sinyal pada halaman konfigurasi. Warna merah menunjukkan kualitas sinyal jelek, warna kuning dan hijau  menandakan kualitas sinyal sedang, dan biru berarti kualitas sinyal sangat baik.

Indikasi kerusakan pada jaringan point to point dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Sinyal koneksi antara station dan access point lemah.
2. Koneksi wireless sering putus nyambung.
3. Akses internet terasa lemot.

Keuntungan menggunakan jaringan wireless diantaranya sebagai berikut :
1. Lebih efesien dan fleksibel.
2. Mobilitas dan produktivitas tinggi.
3. Maintenance yang mudah.
4. Kemudahan dan kecepatan instalasi.

Namun selain memiliki kelebihan, tentunya penggunaan wireless juga memiliki kelemahan, diantaranya adalah:
1. Biaya Instalasi tinggi.
2. Delay yang besar.
3. Biaya peralatan yang tinggi.

KESIMPULAN

Radio Link Point to Point adalah salah satu komputer/perangkat yang disambungkan ke satu perangkat/komputer saja menggunakan perangkat wireless.